Saya Adalah Teater
November 26, 2009 – 2:40 am by nyeniusMaaf saya tidak mengerti cita rasa seni anda, sucks!
Semakin jauh saya dari panggung teater secara fisik, semakin asing melihat mereka yang bergelut didalamnya. Masih terngiang ditelinga, pengalaman latihan teater ketika SMP “Total! Total! Ayo keluarkan totalitasnya!” Dan saat ini saya pun berkata, tidak ada totalitas yang sia-sia. Masih terngiang ketika workshop teater –juga dulu waktu smp- betapa saya yang notabene baru kali itu menjejakkan kaki di panggung harus di maki-maki didepan umum, disuruh turun panggung dengan teriakan “Tidak ada tempat buat plagiator di panggung teater!”. Hanya karena secara tak sengaja saya membawakan sebuah peran dengan cara hampir mirip dengan performer sebelumnya. Dan sekarang saya berkesimpulan, ide yang terlintas pertama hampir pasti sudah ada orang lain yang memikirkannya.
Masih teringat, sebalnya saya ketika inisiasi pertama teater SMA, yang para senior masuk ruang dan langsung berselisih yang saya langsung tahu maksudnya ingin mempertontonkan apa itu akting. Saya muak tapi diam saja. Belakangan mafhum juga, begitu tahu mereka tak punya pembimbing. Masih teringat ketika inisiasi pertama saya menjadi ketua teater di sma, dimana saya harus memimpin latihan sambil ditonton para senior, saya bariskan teman-teman dan mulai memimpin latihan. Ditengah latihan : “Yang gak serius gue lempar sendal!” Sejak itu anggota teater pun menyusut. Dan saat ini saya pun berkesimpulan, kelewat serius bisa bener-bener kelewatan.
Masuk kuliah jurusan teater, pelatih saya berpesan: “Pokoknya lo perhatiin aja, biasanya yang rambutnya gondrong otaknya kosong, menang gaya doang” Saya pun menjadi antitesa orang kebanyakan di kampus. Pakai celana bahan, dan seringkali pakai kemeja rapih. Saya diskusi dengan beberapa kawan karib, tentang falsafah teater, maksud dasar dibalik berteater. Masih ingat betul kesimpulan kami saat itu; memanusiakan manusia, membawa manusia ke ujung potensinya. Dan saya berpikir, terus berpikir, setelah mendapatkan latihan ‘menjadi manusia’ di dunia teater, lantas kemana kita mempraktikannya? Terus menerus diatas panggung? Karena saya merasa teori-teori, teknik-teknik dalam teater terlalu mubazir untuk melulu dituangkan diatas panggung. Saya pikir itu bisa diaplikasikan dalam bentuk yang lebih luas dari sekedar naskah dan panggung. Dalam kehidupan nyata, dalam bertetangga, bergaul, dalam usaha memberi kebaikan nyata bagi orang banyak. Bukan hanya cerita yang dimengerti segelintir orang. Sepertinya saat itu saya mulai jatuh cinta pada ‘prosa’ ketimbang dalamnya kata-kata puisi. Efeknya lebih luas, lebih bisa mengena dalam pencernaan orang banyak.
Teater absurd yang dulu dikagumi mulai kelihatan basi dalam pandangan saat itu (dan saat ini). Seni tertinggi adalah seni realis! Itu kesimpulan saya. Seni yang melenceng dari realitas yang masih saya kagumi adalah surealis. Dan memuncak pada pertanyaan kepada dosen penggelut surealis : “Sebetulnya kita hidup untuk seni, atau seni untuk hidup”. Seni untuk hidup disini tidak dalam arti “Seni sebagai mata penghidupan”, tetapi adalah seni sebagai sebuah pendorong manusia dalam mengolah hidupnya.
Kekeras kepalaan saya untuk bertahan di teater pun semakin luntur ketika ditambah tuntutan untuk pulang ke rumah dan menggeluti hal lain; desain interior. Setelah berdiskusi dengan seorang teman yang terpercaya, keputusan pun diambil, saya pulang, meninggalkan segalanya dibelakang. Dan semenjak itu, kaki ini jauh dari panggung, mata ini jauh dari pertunjukan, mulut ini jauh dari olah vokal, bercerai sudah dengan dunia itu. Terjun ke dunia prosa, dengan sesekali menggumam beberapa puisi. Saya bukan aktor, bukan sutradara, bukan penulis, bukan penyair, tapi prosais dan saudagar. Tapi saya tahu, totalitas yang dulu tidak akan bisu.
Hehehehe, lagi browsing di internet, gak sengaja nemuin ini disni. Material di bawah ini FULL-COPY-PASTE dari situs
Generalizations
Gue pernah baca, mengenai salah satu cara menerjemahkan/memahami puisi adalah dengan memberikan kata sambungan yang hilang dalam bait puisi, sehingga membentuk kalimat yang lebih prosaik. Seperti puisi chairil anwar yang di bawah ini:
I forgot exactly when the first time my ears met The Doors music. But I do remember when it first amaze me. It was on the poetry reading event at Dago Tea House. Some old artist open up his show, with high volume ‘Break on Through (to the other side)’, it shocks me. Plus, the gimmick of the show is that artist breaking an imitative door in flame by running through it. Waaah, my body is trembling with excitement. From the beginning to the end, my eyes wide open, my ears gone focusing on the song’s ambience.