Tiba-tiba saja kau datang dalam hujan mengetuk hatiku dengan semena-mena dan pergi dalam petir yang menyambar. aku tangkap wajahmu, jangan pergi! sesaat seperti ini selama beberapa jam lagi akan memuaikan hatiku. aku tangkap tubuhmu! Jangan berlalu tak ingin waktu ini menjadi waktu itu nanti. Kau selalu datang di awal Ramadhan, di saat hujan menitik, di saat mendung tersenyum, dan selalu pergi begitu saja. Selama beberapa cangkir kopi dan berbatang-batang kretek kau menemaniku, tapi kau selalu meninggalkanku dalam lama yang tak tentu. Aku bosan mengungkapkanmu dalam kata; seperti. Aku ingin kau seutuhnya menjadi, aku ingin kau sebulat-bulatnya. Aku merindukan matahari yang telah kau mandulkan itu, saat kau datang, sebagai peri bergaun cokelat lembut menyapu langit. AKu merindukan dedaunan yang kau tundukkan, juga setiap kali kau datang. Perasaan kehilangan seperti ini menghadirkan kekosongan yang sangat. Kau selalu meruntuhkan bunga-bunga, kau memaksaku menghirup awan kosong.

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>