Kesedihan berlompatan riang
sebagai anak kecil tanpa dosa
seperti angin menghembus
aku tak tahu sebabnya

kesedihan tersenyum
waktu kulihat kamu
seperti keringat mengalir
ia tiba-tiba saja ada

aku tak pernah mengundangnya
ia datang ketika
kusebut kamu

kau telah menyatu
dalam nadi yang tak kutahu
letaknya

luka karena kehilanganmu
menjadi bom waktu
setiap saat bisa membunuhku

aku tak bisa menangis
tapi ada sebuah luka yang lebih
menusuk dari balik kulitku
waktu kuingat kamu

kau mungkin takkan pernah tahu
Darah-darah yang tercecer
hanya karena kusebut namamu

12:55 AM 10/16/2003

Tagged with:
 

One Response to Perih Mendendam

  1. tari says:

    sungguh menyakitkan berada dalam keadaan spt itu,puisimu membuatq merasakanya lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>