Hatiku tersayang
biarkan saja, mereka tidak tahu
lepaskanlah kutukmu,
malu terdengar Tuhan

Bersihkan jendelamu
sudah kusam rupanya
aku tak mau menjadi buta
dan kehilangan cahaya-Nya

Badanku yang lapuk
Waktu rasa takut menggigilkanmu
Ada baiknya kita terus melaju
Karena ia tak mungkin kita hilangkan
sedang langkah adalah lambang kehidupan

Mataku yang bodoh
hentikanlah melahap buah dada mereka
uratmu sudah terlalu lelah
sekarang kita butuh lebih dari sekedar buah dada
tapi kita juga perlu hati yang mencintai

Lidahku yang licin
Berkatalah yang baik
Semaikanlah bunga di hati tetangga kita
dan tegaskanlah batas fakta dan fiksi

Jiwaku,
Jiwaku yang terus berkelana
ke dalam seribu warna lembah
pulanglah nak

Tubuh ini telah lama kosong
Jasad ini hanya menagih jasad kembali
dan kau semakin jauh dari pendampingmu

Pulanglah,
agar urat ini kembali menghijau
dan penuh kehidupan

Pulanglah,
agar jalan kita yang membayang
menjadi jembatan lurus menuju kesejatian

Jiwaku, pulanglah
karena kita akan kembali
mencangkul sawah ini
dari petak yang paling mula

06/10/04

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>