Tak bisa kuselesaikan
puisi-puisimu
dalam satu kedipan

3-4 puisi yang terlewati
selalu menghentak lambungku
tak mampu terus lagi

Luka dari
kata-katamu
mengucur bagai air mata

aku tak pernah
kenal kesunyian sepertimu
alunan hidup yan kau ceritakan
dan kerutan kening yang kau tuliskan

Jiwamu seperti kapas
lembut, hitam
menjerat sebagai
jaring laba-laba

kau seakan tak menoleh
sudah kupanggili namamu
kupanggili namamu

kau ada
hanya untuk jendela-jendela
di kamarmu

Duduk di kursi
menanti senja


—-
Toba.
15 Januari 2003

–edited on 12:46 pm 30/12/2010–

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>