Ketika angin gelap ini turun,
dalam bis, tak pelak wajahmu terbayang
“seorang kawan yang tersandung
di tengah perjalanannya”

Lampu-lampu kota seperti menonton kita
malam ini kaulah bintangnya
mereka selalu menyaksikan bersama waktu
mata mereka membisik di punggung kita
melahirkan kernyit-kernyit gelisah
dalam langkah-langkah kita yang salah

“Dan kita seringkali tak cukup pandai untuk menghiraukannya”

Lubang hitam yang menghantam kepalamu
jangan biarkan membatu
bicaralah padaku, satukan kembali
keringat yang dulu pernah jatuh bersama
jadikan aku rantingmu, bergayutlah padaku
kita bersihkan lukamu

Jika pintu-pintu terkunci untukmu
ketuklah pintuku,
pelukan seorang kawan menantimu

Kita mungkin tak bisa mengalahkan waktu,
lampu-lampu kota, dan peristiwa yang pergi dengannya
Tapi selama nafas masih melekat
kita masih mungkin memperbaikinya


==================
2:56 18/09/2005

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>