Saya penjual Zippo online di forum kaktus dan pemilik TokoZippo. Zippo yang saya jual langsung didatangkan dari U.S. And that’s where the problem begins. Saat itulah ketika saya bertemu wajah dengan bea cukai dan kantor pos Indonesia.

Ketika saya diakali oleh calo cukai yang mengaku sebagai petugas resmi, saya senewen dan takut. Saya ditawari untuk tidak usah membayar cukai yang dikenakan atas paket saya, alih-alih membayar ke kantor cukai, saya diminta membayar ke calo itu. Yang pada akhirnya, saya tahu bahwa itu 1000% bullshit. Bahwa sesungguhnya pajak paketnya di markup terlebih dulu, sehingga hadir ke saya sudah dua kali lipatnya.  Sebetulnya pajak saya tetap dibayarkan, dan bonusnya kena palak calo.

Takut, karena saya paling benci peristiwa uang haram dalam proses bisnis. Karena saya sudah punya anak dan sangat memikirkan bagaimana kalau uang itu menjadi daging anak saya. Saya benci membayar lebih orang yang memang sudah dibayar untuk melakukan tugasnya.

Dan saya shalat istikharah, apakah harus lanjut menjalankan jual Zippo, atau berhenti seketika. Kondisi saat itu benar-benar membingungkan dan pikiran saya tersita pada plihan itu. Mungkn karenanya Tuhan cepat memberikan jawaban.

Subuh itu ketika saya tidur, saya memimpikan diri saya turun dari eskalator dengan tangan terbentang membawa dua buah Zippo di kanan dan kiri. Saya terbangun dan terkesiap. Apa artinya?

Sebetulnya saya tidak siap jika artinya adalah “teruskan jualan Zippo”. Karena saat itu saya tidak tahu bagaimana menangani proses tidak mengenakkan di cukai. Tapi saya sudah bertanya, dan jawaban sepertinya sudah ada. Kalau dipkir secara netral sat itu, saya anggap jawabannya seperti yang saya tidak mau; lanjutkan.

Ok, kalau jawabannya lanjutkan, saya kembali bertanya-tanya; lanjutkan dengan proses busuk ini, atau bagaimana? Dua hari setelah istikharah pertama, saya istikharah lagi. Kali ini pertanyaannya: gak apa-apa diterusin proses busuk ini, atau cari cara lain?

Kali kedua, saya tiak mendapatkan mimpi apa pun, tidur saya tenang, tanpa mimpi. Keesokan paginya, ketika saya menjaga toko furniture ayah saya, datang seorang pelanggan. Seperti yang lainnya, dia menanyakan harga lemari, kursi dan lain sebagainya, pada sesi tawar-menawar, saya ajak dia duduk, dan kami ngobrol panjang lebar.

Kesan pertama saya terhadap orang ini berbalik 100% setelah obrolan dimulai. Orang ini kulitnya gelap, memakai celana pendek, kaos, memiliki tato di lengan, dan menggunakan gelang kaki berwarna chrome. Saya pikir he’s just another man in the world. Apalagi ketika dia bilang bahwa dia adalah seorang pelaut, saya langsung tersenyum, mengingat dua obrolan saya dengan dua orang pelaut lain sebelumny (it’s full with men’s adventure i may say).

Lantas dia bicara agama, halal haram, menkelaskan tato dan gelang kakinya. Saya terperangah. Tidak sampai disitu, dan dia bicara tentang sperma! Dia bertanya apakah saya sudah menikah, saya jawab sudah. Dan kembali dia bertanya: “kamu tahu apa yang menyebabkan mundurnya umat Islam sekarang ini?” Saya menjawab dalam hati dengan suatu jawaban yang umum untuk pertanyaan klise itu, tapi yang terucap “apa tuh pak?”

“karena dari awalnya sudah salah”, saya tertegun, menanti kelanjutan kalimatnya.
“Karena kebanyakan, ketika Sedng bersenggama, dalam proses bikin anak, ketika sperma kita ngecrit ke dalam rahim istri kita lupa mengucap satu hal…”, saya bengong, gak nyangka dengan pemilihan kata orang itu.
“Kita lupa sekedar mengucap alhamdulillah…”

‘Sudah salah dari awalnya’, itu kalimat yang benar-benar tertancap dalam kepala saya. Saya tidak tahu kenapa tapi kata-kata itu betul-betul paling berkesan dalam obrolan itu. Saya tidak ingat akan istikharah, saya anggap dialog dengan orang itu adalah pencerahan yang tidak berhubungan dengan pertanyaan kedua saya.

Siangnya saya berangkat ke kampus, kuliah. Sorenya setelah selesai kelas, tidak biasanya seorang dosen ikut nongkrong bersama saya dan teman-teman. Kaeena yang lain sibuk main remi, dosen itu ngobrol panjang lebar dengan saya. Diulai dengan basa-basi, hingga akhirnya dia bercerita panjang lebar mengenai penyebab cacat pada mata kirinya, yang tidak bisa melihat. 

Obrolan itu mnegalir sampai ada kalimat yang menendang ulu hati saya. Yaitu, “Dalam keadaan susah, setelah koma selama enam bulan, tidak tahu nasib pekerjaan saya, tidak bisa berbicara lancar, Bahkan beberapa memori di kepala hilang. Satu hal yang membuat saya tenang menghadapi semuanya. Karena sejak awal saya tidak pernah ingin berbuat jahat kepada orang lan, dan saya betul-betul menjalankan itu. Jadi saya yakin Tuhan akan membantu saya, mungkin melalui orang-orang disekitar saya….”

“Karena sejak awal….”, kalimat itu diucapkan ringan saja, tapi terasa seperti menendang ulu hati saya. Dan saya mulai bertanya-tanya tentang dua diskusi yang aneh hari ini, saya mulai ingat istikharah pertanyaan kedua saya: melanjutkan dengan cara salah, atau bertahan pada prosedur yang benar?

Saya pulang dengan kepala mengawang-awang. Mencoba mencari benang merah dari dua obrolan yang tidak biasa sensasinya pada hari ini. Sampai keesokan harinya, baru saya sadar bahwa benang merahnya ada pada: mulailah dengan benar. Ini jawaban pertanyaan kedua! Dan juga kebetulan jawaban yang sebetulnya tidak saya inginkan. Karena saya pikir itu akan sulit, dan saya tidak tahu harus bagaimana.

Tapi jawaban sudah keluar, sisanya terserah saya memilih yang mana. Tiap-tiap jalan punya konsekuensinya sendiri. Dengan bismillah, saya ikuti petunjuk jawaban tersebut…

Dan sampailah pada hari ini, ketika 100% dari 4 paket import saya hilang entah dimana, dengan nilai yang tidak sedikit juga. Setelah dua tahun melakoni jual-beli Zippo hasil import, rasanya muak menghadapi masalah yang sama, yang bahkan sepertinya semakin parah dari yang sebelumnya.

I don’t know, maybe i’m just tired….

**Ya saya adalah seorang bocah naif yang masih percaya bahwa bisnis harus dilakukan dengan bersih dan tanpa suap.

Adverstisement

Office: Rasuna Office Park 1 Blok io-10 JL. HR Rasuna Said Jak-Sel 12960

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>