on August 7, 2004 by nyenius in Blog, Comments (2)

Tear’s Well

Kau adalah sumur luka yang tak cukup digali dengan sebuah tangis. Hingga membuang pikiran tentangmu pun jadi sebuah sakit lain yang mengerat jiwa. Mimpi terburuk tentangmu, kadang bangkit, hanya kesedihan dalam pasrah yang hadir. Tanpa tahu harus kemana kemudi kapal kuputar. Aku tak bisa menujukannya padamu, tak mungkin lagi. Alam sudah mengisyaratkan perpisahan yang berat, daunan sudah berkata kita harus saling pergi membelakangi satu-sama lain.

Aku tak pernah mengerti kesedihan yang satu ini, tak sukses kuurai-kubentangkan, selalu tetap menjadi sebuah rasa, sebuah perasaan yang mengendap dan menginjak retak-retak hatiku dengan sangat hati-hati.

Tanah kerinduan itu tak mungkin kusentuh lagi, tak bisa. Mungkin tak seperti bangsa Yahudi yang kembali ke Eretz Yisrael, tak juga seperti pelancong haji yang kesampaian mencium Hajar Aswad. Tanah itu hanya bisa kupaling dari jauh, dan kusumbangkan sebuah senyum berbunga, untuk kemudian kutekan sakit yang menyengat di dalam.

Aku tahu, perpisahan, dan akhirnya perpisahan. Satu kondisi telah dieksekusi, runutan fungsinya tengah berjalan. Tak ada bahasa penyesalan dalam kenyataan, karena itu, kuputuskan bagaimana hidup ini harus berlanjut.

2 Comments

  1. siti sayang lio

    August 7, 2004 @ 11:11 pm

    iya subhan.. tahukah kau..dibandung sana masi banyak perjaka perjaka yang mencari kesakita itu..*lo tau kan siapa aja maksud gw ;)

  2. Wimels

    August 7, 2004 @ 11:11 pm

    diakui setiap perpisahan pastilah sangat menyakitkan bukan? lalui hari2mu di tanah kelahiran mu teman, mukin nasibmu disana akan lebih baik:)

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>