on December 6, 2007 by nyenius in Blog, Comments (1)

When we fail our mother

Hari ini gue terlibat pembicaraan yang cukup menarik di kampus, sama temen gue Tince dan satu kenalan baru bernama Lusy. Obrolan itu terjadi setelah kami mengikuti seminar tentang Kebudayaan, Desain dan bla bla bla. Banyak yang kita obrolin, salah satu yang pengen gue ceritain adalah obrola kami tentang pilihan.

Omongan itu disulut oleh pernyataan Tince mengenai kemampuan multi-tasking seseorang. Bagaimana seseorang seharusnya dapat melakukan dua hal berbeda secara proporsional. Contoh kasus adalah kerja dan kuliah (reguler). Gue dan Lusy yang berada dalam posisi tersebut mengatakan nasihat ‘pandai-pandai membagi waktu’ itu adalah omong kosong, menurut gue yang ada adalah penentuan prioritas antara hal-hal tersebut. Dan itu ditentukan oleh kecondongan seseorang terhadap sesuat, mana yang paling dia pilih, kerja atau kuliah.

Begitulah, pembicaraan terus mengalir sampai pada akhirnya gue bilang, pilihan itu gak ada yang salah, selama kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Dan kalo kita terus tunduk pada ‘apa kata orang’, maka gak ada habisnya, kita harus menentukan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba aja si Lusy nambahin, dan yang paling gampang adalah kalo kita ngejalanin apa yang direstuin orang tua kita, pasti jalannya dimudahin tuh, ya mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi entah kenapa hal itu kerasa kok.

Disitu gue langsung nyambungin, mengiyakan dengan tegas sambil senyum. Secara agama, itu jelas dilarang, jangankan nggak patuh, bilang ‘ah’, ‘uh’ aja dilarang. Lantas terbetik sesuatu dikepala gue, sebuah penjelasan yang bukan berasal dari hukum agama. Mungkin begini, gue bilang, ibu itu kan asal muasal kita secara jasmani, jadi ketika kita mengingkari dia, sama saja kita mengingkari asal muasal kita, jati diri kita, yang mana orang yang mengingkari dirinya sendiri pasti akan selalu merasa bingung dan tak pasti akan langkahnya, kehilangan akar.

Gue tambahin, tapi gue yakin, meskipun kita mengingkari orang tua kita (baca, tidak mematuhi), kita tetep bisa ngeraih mimpi dari jalan yang udah kita pilih, tapi melalui jalan yang penuh kesakitan…

Tags: ,

1 Comment

  1. Aves

    December 6, 2007 @ 9:49 pm

    :)

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>