on September 27, 2008 by nyenius in Blog, Comments (2)

Beban Pengetahuan

Current Mood:Alarmed emoticon Alarmed & Pondering emoticon Pondering & Glekh… emoticon Glekh…

Crazzyyyy

Crazzyyyy

Menjadi pintar, penuh dengan ilmu dan pengetahuan, siapa yang nggak pingin? Yang terbayang dibenak gue ketika memandang orang yang penuh pengetahuan adalah mendongak ke atas, menatap dengan takjub, kagum, dan hormat. Dan gue akan makin takjub, kagum, dan hormat ketika bertemu orang penuh pengetahuan yang terus berusaha menyejajarkan posisinya dengan siapapun yang dia temui. Itu semua adalah cita-cita banyak orang, dan gue pribadi terus berusaha mengasah rasa curiousity itu agar semakin tajam dan berguna.

Dulu waktu masih duduk di bangku smp, gue pernah bertanya ke bokap apa gunanya bagi gue -yang masih sekolah dan biaya hidup masih ditanggung- melaksanakan shalat dhuha, yang jelas-jelas doanya berisi permintaan rizki. Bokap gue tersenyum dan menjawab bijak yang redaksi nya kurang lebih begini: “Jangan terlalu sempit mengartikan rizki Tuhan, semuanya tentu disesuaikan dengan kebutuhan si pendoa. Buat kamu yang masih dalam proses menuntut ilmu, tentu Tuhan akan memberikan rizki dalam takaranmu, yaitu ilmu.”

Setelah itu gue terus berdoa dan berusaha supaya ilmu di kepala ini terus bertambah. Sampai tibalah gue pada suatu titik, menemukan suatu ungkapan (gue lupa, apa ini hadits atau perkataan ulama), bahwa orang yang tahu dan tetap melanggar, salahnya (dosanya) dua kali lipat dari orang yang nggak tahu. Dari situ, ada semacam penolakan dan keengganan dari dalam diri gue untuk tahu terlalu banyak, takut dilaknat sama ilmu itu sendiri….. Sebab gue tahu betul bahwa gue belum sanggup mengamalkan semua pengetahuan yang masuk ke kepala gue. Ini terutama dalam hal ilmu agama. Allah berfirman; Yarfa’illahullaziina aamanuu minkum wallaziina uutul ‘ilma darojaat. Artinya “allah akan meninggikan derajat orang-orang diantara kamu yang beriman dan menuntut ilmu.” Ampuun, ampun, ampun, kalau ilmu sendiri masih dikhianati, berarti hilanglah manfaat ilmu itu, bagaimana bisa jadi orang yang dipercaya kalo begitu? Coba aja liat, kalau ada anak kecil jalan-jalan sama orang yang lebih dewasa, terus anak itu celaka atau berbuat sesuatu yang berakibat celaka, pasti yang disalahin adalah orang dewasa itu, karena dia dianggap lebih tahu dari si anak kecil dan seharusnya bisa menjaga anak itu dari perbuatan yang tidak diketahuinya bisa membawa celaka.

Tapi segera gue sadari lagi, bahwa keistimewaan dan kemewahan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang boleh disia-siakan. Tuntutan tambahan bagi orang-orang yang berilmu itu, justru menjadi satu sistem tersendiri yang memastikan ‘keistimewaan’ dan semacam fit and proper test sebelum mereka masuk menjadi orang-orang yang diangkat derajatnya. Daripada gue jadi orang yang rugi karena merasa masih brengsek terus jadi berenti menambah pengetahuan ke kepala, lebih baik gue memilih tetap terus menimba ilmu dan berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki perbuatan. Soal ini malah gue dapet pertanyaan menarik dari seorang temen waktu acara buka bersama dua tahun yang lalu. Redaksinya kurang lebih begini: “boleh gak kita tidak menuruti rasa ingin tahu kita soal ilmu agama?”, gue ngerti maksudnya, biar dia tidak mendapat kewajiban menjalankan hal tersebut.

Saat ini, ketika jaman informasi semakin mudah, mungkin seharusnya kita makin soleh ya? Ato karena informasi semakin mudah, hal-hal tersebut makin jadi biasa dan bisa ditinggalin dengan mudah? Saat ini gue bertanya lagi, kapan mau serius benahin diri?

Tags:

2 Comments

  1. Aves

    September 28, 2008 @ 1:15 pm

    “Saat ini gue bertanya lagi, kapan mau serius benahin diri?”

    Sekarang Yuks…

  2. nyenius

    September 28, 2008 @ 1:47 pm

    males ah, ngajaknya kayak ABG… hiihihihi

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>