on March 14, 2009 by nyenius in Blog, Comments (1)
Menerjemahkan Puisi Secara Harfiah
Gue pernah baca, mengenai salah satu cara menerjemahkan/memahami puisi adalah dengan memberikan kata sambungan yang hilang dalam bait puisi, sehingga membentuk kalimat yang lebih prosaik. Seperti puisi chairil anwar yang di bawah ini:
Aku
chairil anwarKalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
………….–mari kita coba terjemahkan secara harfiahnya–
Kalau (suatu hari nanti, telah) sampai waktuku (menghembuskan nafas terakhir)
(yang) ‘Ku mau tak seorang (pun diantara kalian, atau siapapun) kan merayu (atas kepergianku)
Tidak juga kau (nama seseorang, Lisa, misalnya)
Tak perlu (lah kau mengeluarkan) sedu sedan (seperti) itu(karena) Aku ini (hanyalah) binatang jalang
(yang bahkan) Dari kumpulannya (pun) terbuang… bla bla bla … dan seterusnya …
Ya gue lupa apa nama tekniknya, bener nggaknya judul posting ini, gue juga gak tau. Tapi yang jelas cara begini ada. Bahkan Quraish Shihab pun memakai teknik ini dalam menafsirkan Qur’an di tafsirnya, Tafsir Al-Mishbah. Coba aja liat sendiri. Semoga posting singkat ini membantu.

reekoheek
June 4, 2009 @ 2:29 am
keren… coba kapan2 pake cara tafsir mizan ba… sapa tau hasilnya ngaco :P