on September 27, 2004 by nyenius in Blog, Comments (2)

28 Sept 2004

Ciputat Setelah Hujan

Begitu hujan berhenti bicara, tanah ini jadi penuh cumbu-rayu, romantisme merayap pada tiap sudut udara. Segalanya tampak menenangkan. Tak ada yang berkejaran dan yang menangis disudut debu jalan, semuanya istirah, menikmati sisa belaian manja hujan pertama.

Setiap tempat tampak menyenangkan dan penuh kenang. Aku ingin berlama-lama di terminal yang lengang, meraup hawa gaib hujan yang tersangkut di sela pohon kering dan genangan-genangan kecil air di atas beton yang selalu sibuk. Jejak-jejak kebaikan hujan melembutkan suara-suara kondektur batak yang biasanya garang. Menikmati udara keberkahan hujan bersama manisnya asap rokok, kami bertiga saling cumbu, tawa-menertawai, dan menggaruki batin kami yang gatal.

Begitu hujan usai mengabarkan kedatangannya, hawa dingin tak ingin diam begitu saja, digigitinya tulang-tulang kami yang mengering oleh kegilaan kota, jelas, dengan mesra! Tak lupa dikirimkan angin-angin manis berpita lucu, hujan menyapu galau mereka yang terus berjalan.

Semua berubah wajah, menjadi gelap, biru gelap yang mendamaikan. Malam bertambah genit, bagai gadis misterius bergaun anggun yang tak henti tersenyum dan meninggalkan pesona dalam di hati pemuda kasmaran. Semua dikecupnya, hingga cinta-cinta hadir dan benar-benar tak terucapkan.

Aku jatuh gandrung, sepertinya Ramadhan datang lebih cepat.

2 Comments

  1. fahdi

    September 27, 2004 @ 1:39 pm

    dan di pasar terlihat becek dan makin macet
    DOH CIPUTAT
    DOH CIPUTAT

  2. nazla

    September 27, 2004 @ 1:39 pm

    iya nih, malam nisfu ini gw berasa sendu sendiri…puasa bentar lagi.

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>