on October 1, 2004 by nyenius in Puisi Cinta Nyenius, Comments (4)
4 Malam di Tengah Sya’ban
Malam 1. Sabtu, dini hari.
Malam terang
Bulan putih bergelung
dibalik mendung
Setalah mengamuk
Halilintar terduduk tenang
mengatur nafas
Malam tenang
semuanya memutih begitu datar
Cahaya-cahaya putih tipis
Menyelimutiku
Memelukku
Menenangkanku
Sesekali aku meraung
Ada binatang bersarang dalamku
begitu kental menyeringai
- cahaya-cahaya putih tipis terus bersinar -
Mengingatmu
Gadis bunga merah jambu
Mengingat dosaku
Jatuh aku
Pertemuan tempo waktu
Adalah pertemuan bunga binatang
Yang satu menggeliat buas
Yang lain anggun merekah
Malam tenang
Bulan dan bintang pergi cuti
Sebab ini malam Sya’ban yang suci
Aku rasa entah hidup entah mati
Waktu terus bergulir
Pagi menjelang, Nishfu Sya’ban hendak pergi
Belum kusapa ia
Aku tergantung dalam celaka
- kelembutan cahaya tipis yang manis menemaniku -
Bagaimana aku
harus bertemu bungaku
Aku rasa tak pantas
Aku rasa malu
Aku tunggu kamu
Tak datang juga
Aku butuh kamu
Terduduk bersama mendung
Akumerindukanmu
Terduduk bersama mendung
Aku berdosa padamu
- cahaya tipis datang menenangkan -
Sesekali noda hitam itu
Mencuat ke atas jidat
AKu menjadi begitu marah
Sesal dan jijik menari
Siang. Sabtu, tengah hari.
Siang begitu tenang
Hari tengah puasa
Sepenggalah lagi raja hari di atas kepala
Aku terbangun dengan ludah
mengental di tenggorok
Maam tadi aku bermimpi
Aku di dikte oleh malaikat
Aku diajar tenang
“Dalam tenang ada cahaya,
emosi menunduk pergi”
Aku bangun dan terpana
teringat kamu bungaku
sudah siang rupanya
malam Sya’ban lewat tanpa kusapa
Aku lapar akan wajahmu
Tapi teringat dosaku
Aku diam
Akhirnya aku bunuh diri juga
Si Keparat itu pisaunya
Nafsu
Nafasku bersesakkan
Aku kacau
Tapi hari yang puasa
Aturkan semuanya
Semuanya,
membuatku takut dan rindu
kepada mati
Sabtu, magrib
Di luar
Hujan berlarian dnegan tangkas
Langit mendung tentu
Dan guntur terbahak bersama angin
- Langit tengah pesta rupanya -
Kutengadah ke atas
Kurasa air bersijingkat lincah
diwajahku
Aku basah
Kutertawakan segalamendung
Mereka temanku
Kutertawa bersama katak
Aku orang lupa yang ingat
Aku orang mungkir yang menyebut
Aku tengadah ke atas
AKu basah
Sudah dua kali kupanggil bungaku
kau tak ada
Sudah pula kau cari aku
Aku tengah gila
Aku rasa tak mampu memandangmu
Ku ingin kau lihat aku
Kata-katamu tempi hari
Menusuk hati
Aku tidak sakit
aku sadar.
- Saat itu semua setan menertawaiku -
Aku tahu kamu
aku rasa hatimu
tapi aku malu
kutunjukkan kegilaanku depanmu
- itu bukan untukmu -
maafkan aku
Siapa tahu sesalku
siapa tahu sesakku
Aku mual
Bila ingat itu
Segera kupecahkan dengan
gelengan kepala
Di luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Bumi dan langit menari
Tarian gaib yang padukan luka dalam pesta
- megahnya -
Aku tertawa
Kini asap dan langit tempatku bersenda
Kupeluk mereka dan menangis
“Terima kasih telah menghiburku”
- mereka terus berpesta -
Aku tergila-gila pada luka
Dalam mereka ada kata dewasa
Kamu bungaku
Maafkan aku
Seharian aku sibuk dnegan sesakku
Aku rasa tak mampu bertemu
Aku bingung dengan kata-katamu
yang ada pada diriku
- Aku tidak salahkan kamu -
Entah kau dimana
Tapi coba kau lihat langit dan bumi saat ini
Dua kekasih lama yang terus ciptakan keselarasan
Merekalah yang menghiburku sekarang
Mereka adakan seminar kilat
tentang cinta
Seminar akbar
Seminar cinta yang megah di alam raya
Pada mendung
Pelajaran luka
Pada hujan
pelajaran kasih
Pada petir
pelajaran maut
Padasemuanya
kutemukan seorang kawan
Aku lemas
Lelah tidak
DI luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Mereda
Pesta hampir usai
Malam 2. Sabtu, tengah malam.
Malam di tengah orkestrasi gerimis
Begitu tenang
Aku tidak berpikir tentang dosa
Hampirtidak berpikir apa-apa
Seekorkumbang
Terjebakdalam kamar
Tertarik cahaya bohlam
Terpenjaralah ia
Aku juga
Sedang kucari kuncinya
Aku bertanya pada Tuhan
tentang memenjarakan hewan
yang dilahirkan bersamaku
Ia begitu licik
Berlari menyelinap kesana kemari
Seekor hewan yang begitu tua
dan aku yang begitu muda
Aku terkecoh
Tergelincir sampi ingin mati
dan iapergi sambil ngikik dalam hati
Lima puluh kali kutangkap ia
Seribu kali aku dikibuli
Aku bertanya pada Tuhan saat hujan
Aku minta tolong tangkapkan
Tuhan selalu menjawab
Tuhan selalu menolong
Hanya aku tetap keparat
Malam ditengah orkestrasi gerimis
BEgitu syahdu
Aku ditemani musik sikafir
Aku coba senang saja
Aku maju-mundur menghadapimu bungaku
Antara ingin dan tak mampu
Antara butuh dan galauku
Aku menunggumu
Tapi tak kunjung juga
Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
Lelah ia
Merayaplah pada kakinya
Aku membayangkanmu
Orang semanis kamu
mau padaku
Hebat kupikir
Terlalu banyak kompromi terjadi
AKu menjadi takut
Aku seperti mesin perusak besar
Kupesankan hati-hati
Sering kuminta tolong-Nya
datang selalu
ku hianati selalu
Dibakarkan-Nya sebatang korek
dan kemudian kutiup kembali
- kupesankan hati-hati denganku -
Tak jarang kutemani setan
yang selalu berusahamembunuhku
Tempo hari
setanku tampak padamu
Kau tak layak dapatkan itu
Ini sulit bagiku
Tapi kejadian itu dan kata-katamu
BEgitu membekas biru
Aku harus sadar
Bila bukan untukku
Maka itu untukmu
Aku berani dan takut kehilangan
Makin banyak kenangan
Makin menakutkan dan menyakitkan
Aku gelisah
Agar kau tidak
Aku ingin ditemani
Malam hening
orkestra selesai
Tinggal kucuran-kucuran
sisa tampungan hujan bernyanyi
Si kafir masih terus bernyanyi
Dan aku terus coba senangsaja
Besok tak pasti
Aku coba tenang saja
Seharian tadi aku tertawa
dengar kisah orang-orang
coba hilangkan jijik padaku
Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
kini kemanaia
Kurasa ia tahu
ada hewan dalamku
Bila ingat dia
aku ingin mati
aku tak ingin mati
Si Chairil gila itu salah
Dia bilang, “Hidup hanya menunda kekalahan”
Hidup adalah mencari kemenangan
atas hewan gila itu
Ia begitu tua
dan aku begitu muda
Malam 3. Minggu, malam.
Malam datang
Hujan tumpah lagi
sepertinya bumi berpeluh
karena berdansa tiap hari
langit juga
Hujan deras menderu
Meatari jalannya waktu
yang sarat kejadian
Kulihat diriku
Memadamkan beberapa api
Dengan senyum Tuhan bantu
Berhasil!
Semua padam
Semua menyala lagi
Tapi apiku
siapa padamkan ia
Akumenjai pecundang
baginya
Kenapa begitu bodoh?
Kenapa begitu bebal?
Jangkrik puasa
Tak bernyanyi
Sarangnya tertimpa hujan
Aku seperti dokter
yang tak bisa sembuhkan
bisul di pantat sendiri
sebodoh itukah aku?
Sebebal itukah aku?
Hujan mulai lagi
awan dan petir
konser begitu gayanya
Aaha temanku datang lagi
tadi pala’ku dibelainya
Amboi begitu sayangnya ia
Mengapa aku bercumbu dengan hujan
Aku kehilangan alasan
mungkin karena dia seorang teman
Bungaku
Bungaku
Aku butuh kamu
Aku butuh kamu
tapi aku bingung
Malam 4. Senin, setelah Isya.
Malam berganti
Siang berganti
Tapi samajuga
Bulan dan bintang masih cuti
Akupun masih duduk-tidur di sini
Jangkrik betina lelah
Enggan menarik perhatianjantannya
Malam ini
Aku rasa siap
Aku dan kamu
Kita bermuka-muka
Kita bicara
Nanti jangan diam
Aku ingin dengar rajutan sutra
dari hatimu
Aku dapat kawan baru
kamarku
Mereka tidak menuding
Mereka mau menerimaku
Kamu?
Malam ini
Aku rasa siap
Kutertarawai jangkrik betina
yang enggan bicara dengan jantannya
Mendung tertawa
Lihat aku lulus dari workshop-nya
Langit hening
berikan sebuah senyum penghargaan
Kamarku sepi
Tak ada nyawa selainku
dan aku rasa siap
Mataku lelah
Aku tak mau gila
Aku masih punya Tuhan
ku senang semuanya berjalan
dinamis
AKu benci kamu diam
Ternyata sejelek-jeleknya aku
Tak ada aku lain
AKu hanya satu
Aku adalah cinta TUhan
Lihat! Asap-asap menggelembung
Berputar-putar menari berjinjit
Begitu genit!
Mereka rayakan sadarku
Mereka rayakan siapku
- mereka jamu aku -
Kulihat marah dan cinta
berdiri tegak rata
Sungguh cinta dasar segalanya!
Kemarin ingin kubuang mulutku
Bagai ular yang ingin buang taringnya
Kurasa mulutku penuh busa
Dia itu celaka!
Kini aku menulis dengan tenang
AKu berasa siap
Walau tetap bingung juga
Melihatmua terdiam biru
Kulepas egoku
Aku masih bingung
Kutinggalkan kasur lamaku
DIsitu mimpiku tak tentu
Bagi hantu!
Lihat kasur baruku
Nyaman, tenang
dan aku tahu mimpiku
Aku bosan menjadi orang bodoh
Melecehkan diri sendiri
sampai ingin mati
lupaka aku hanya satu
dan hidup hanya sekali
Aku masih punya mimpi
Hidup bersama kecintaanku
Dan melihat aku-aku kecil berlarian
===============
Sabtu, 11 Nov 2000 (malam nishfu sya’ban) – Senin, 13 Nov 2000
Tags: puisi renungan cinta

nazla
October 1, 2004 @ 12:37 pm
this is f*****g GOOD!
Toba
October 1, 2004 @ 12:37 pm
Kalian ini bener kagum ato sebenernya kesel karena kepanjangan???
adjeng
October 1, 2004 @ 12:37 pm
iya :( gila neh!!
adjeng
October 1, 2004 @ 12:37 pm
beneran lagi Ba… kamu nulis ini waktu masih kecil dulu kan?? amazing! :)